Rabu, 11 November 2015

TEKNIK LABORATORIUM


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak pernah terlepas dari berbagai kegiatan yang berkaitan dengan debu, bakteri atau hal lain yang dapat memberikan kesan kotor kepada diri kita, sama  halnya pada proses praktikum dalam laboratorium.
Tahapan penting yang mutlak harus dilakukan selama bekerja di ruang praktikum adalah prinsip sterilisasi. Bahan atau peralatan yang digunakan harus dalam keadaan steril. Steril artinya tidak didapatkan mikroba yang tidak diharapkan kehadirannya, baik yang menganggu kehidupan dan proses yang sedang dikerjakan. Setiap proses baik fisika, kimia dan mekanik yang membunuh semua bentuk kehidupan terutama mikrooranisme disebut dengan sterilisasi. Adanya pertumbuhan mikroorganisme menunjukkan bahwa pertumbuhan bakteri masih berlangsung dan tidak sempurnanya proses sterilisasi. Jika sterilisasi berlangsung sempurna, maka spora bakteri yang merupakan bentuk paling resisten dari kehidupan mikroba, akan diluluhkan.
Hal itulah yang mendasari kami melakukan praktikum ini untuk mengenal lebih dalam mengenai proses sterilisasi alat-alat yang ada dalam laboratorium hal ini didasarkan karena alat-alat yang digunakan dalam praktikum harus disterilisasikan terlebih dahulu. Hal tersebut dimaksudkan agar tidak ada mikroorganisme lain, yang tidak diinginkan, tumbuh dalam media tersebut, sehingga dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme yang akan dibiakkan dalam media tersebut.
B.  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada percobaan ini yaitu:
1.    Apakah yang dimaksud dengan sterilisasi?
2.    Bagaimanakah cara melakukan sterilisasi?
3.    Apakah tujuan dilakukannya kegiatan sterilisasi?

C.  Tujuan
Adapun tujuan dari percobaan ini yaitu:
1.    Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan sterilisasi
2.    Untuk mengetahui cara sterilisasi alat
3.    Untuk mengetahui tujuan dilakukannya sterilisasi


























BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.  Definisi Sterilisasi
Sterilisasi yaitu proses membunuh semua mikroorganisme termasuk spora bakteri pada benda yang telah didekontaminasi dengan tepat.
Dalam ilmu bedah, sterilisasi berarti memusnahkan semua mikroorganisme beserta sporanya, sedangkan desinfeksi berarti memusnahkan semua mikroorganisme yang tidak mempunyai spora, misalnya kuman-kuman. Desinfeksi biasanya dilakukan pada pakaian, alat-alat linen, tempat tidur, alat buang air kecil dan besar, dan sebagainya.
B.  Metode Sterilisasi
Pada prinsipnya sterilisasi dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu secara mekanik, fisik dan kimiawi.
1.    Sterilisai secara mekanik (filtrasi) dapat dilakukan dengan penyaringan. Penyaringan dengan mengalirkan gas atau cairan melalui suatu bahan penyaring menggunakan suatu saringan yang berpori sangat kecil (0.22 mikron atau 0.45 mikron) sehingga mikroba tertahan pada saringan tersebut. Proses ini ditujukan untuk sterilisasi bahan yang peka panas, misal nya larutan enzim dan antibiotik.
2.    Sterilisasi secara fisik dipakai bila selama sterilisasi dengtan bahan kimia tidak akan berubah akibat temperatur tinggi atau tekanan tinggi. Cara membunuh mikroorganisme tersebut adalah dengan panas. Panas kering membunuh bakteri karena oksidasi komponen-komponen sel. Daya bunuh panas kering tidak sebaik panas basah. Pemanasan basah dapat memakai otoklaf, tyndalisasi dan pasteurisasi. Autoklaf adalah alat serupa tangki minyak yang dapat diisi dengan uap air. Tyndalisasi merupakan metode dengan mendidihkan medium dengan uap beberapa menit saja. Pasteurisasi adalah suatu cara disinfeksi dengan pemanasan untuk mengurangi jumlah mikrooranisme tanpa merusak fisik suatu bahan. Pemanasan kering dapat memakai oven dan pembakaran. Selain itu dapat dilakukan penyinaran dengan sinar gelombang pendek. dapat dilakukan dengan pemanasan & penyinaran.
a.    Pemanasan
Ø Pemijaran (dengan api langsung): membakar alat pada api secara langsung, contoh alat : jarum inokulum, pinset, batang L, dll.
Ø Panas kering: sterilisasi dengan oven kira-kira 60-1800C. Sterilisasi panas kering cocok untuk alat yang terbuat dari kaca misalnya erlenmeyer, tabung reaksi dll.
Ø Uap air panas: konsep ini mirip dengan mengukus. Bahan yang mengandung air lebih tepat menggungakan metode ini supaya tidak terjadi dehidrasi.
Ø Uap air panas bertekanan : menggunalkan autoklaf
b.    Penyinaran dengan UV
Sinar Ultra Violet juga dapat digunakan untuk proses sterilisasi, misalnya untuk membunuh mikroba yang menempel pada permukaan interior Safety Cabinet dengan disinari lampu UV
3.    Sterilisaisi secara kimiawi biasanya menggunakan senyawa desinfektan antara lain alkohol. Sterilisasi kimia dapat memakai antiseptik kimia. Pemilihan antiseptik terutama tergantung pada kebutuhan daripada tujuan tertentu serta efek yang dikehendaki. Perlu juga diperhatikan bahwa beberapa senyawa bersifat iritatif, dan kepekaan kulit sangat bervariasi. Zat-zat kimia yang dapat dipakai untuk sterilisasi antara lain halogen (senyawa klorin, yodium), alkohol, fenol, hidrogen peroksida, zat warna ungu kristal, derivat akridin, rosalin, deterjen, logam-logam berat, aldehida, ETO, uap formaldehid ataupun beta-propilakton.
C.  Cara-Cara Melakukan Sterilisasi
Ada beberapa cara-cara dalam melakukan sterilisasi, yaitu:
1.    Sterilisasi dengan pemanasan kering
a.    Pemijaran/flambir
Cara ini dipakai langsung, sederhana, cepat dan dapat menjamin sterilisasinya, namun penggunaannya terbatas pada beberapa alat saja, misalnya: benda-benda dari logam (instrument), benda-benda dari kaca, benda-benda dari porselen.
Caranya yaitu:
Ø  Siapkan bahan yang disterilkan, baskom besar yang bersih, brand spritus, korek api.
Ø   Kemudian brand spritus dituangkan secukupnya ke dalam waskom tersebut. Selanjutnya dinyalakan dengan api.
Ø   Alat-alat instrumen dimasukkan ke dalam nyala api.
b.    Dengan cara udara panas kering
Cara ini pada dasarnya adalah merupakan suatu proses oksidasi, cara ini memerlukan suhu yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan sterilisasi pemanasan basah. Adapun alat yang dapat dilakukan dengan cara ini yaitu benda-benda dari logam, zat-zat seperti bubuk, talk, vaselin, dan kaca.
Caranya yaitu:
Ø  Alat bahan harus dicuci, sikat dan desinfeksi terlebih dahulu
Ø   Dikeringkan dengan lap dan diset menurut kegunaannya
Ø  Berilah indikator pada setiap set
Ø  Bila menggunakan pembungkus, dapat memakai aluminium foil.
Ø  Oven harus dipanaskan dahulu sampai temperatur yang diperlukan.
Ø  Kemudian alat dimasukkan dan diperhatikan derajat pemanasannya.
2.    Sterilisasi dengan pemanasan basah.
Ada beberapa cara sterilisasi ini, yaitu:
a.    Dimasak dalam air biasa.
Suhu tertinggi 100 ºC, tapi pada suhu ini bentuk vegetatif dapat dibinasakan tetapi bentuk yang spora masih bertahan. Oleh karna itu agar efektif membunuh spora maka dapat ditambahkan natrium nitrat 1% dan phenol 5%.
Caranya yaitu:
Ø  Alat atau bahan instrumen dicuci bersih dari sisa-sisa darah, nanah atau kotoran lain.
Ø  Kemudian dimasukkan langsung ke dalam air mendidih.
Ø  Tambahkan nitrit 1% dan phenol 5%, agar bentuk sporanya mati
Ø  Waktu pensterilan 30-60 menit (menurut pharmacope –Rusia).
Ø   Seluruh permukaan harus terendam.
b.    Dengan uap air.
Cara ini cukup efektif dan sangat sederhana. Dapat dipakai dengan dandang/panci dengan penangas air yang bagiannya diberi lubang/sorongan, agar uap air dapat mengalir bagian alat yang akan disterilkan.waktu sterilisasi 30 menit.
Caranya yaitu:
Ø  Alat-alat yang akan disterilkan dicuci, dibersihkan, disikat serta didesinfeksi.
Ø  Kemudian dibungkus dengan kertas perkamen dan dimasukkan dalam dandang
c.    Sterilisasi dengan uap air bertekanan tinggi.
Jenis sterilisasi dengan cara ini merupakan cara yang paling umum digunakan dalam setiap rumah sakit dengan menggunakan alat yang disebut autoclave.
Caranya yaitu:
Ø  Alat-alat atau bahan-bahan yang akan disterilkan dicuci, disikat, dan didesinfeksi
Ø  Kemudian diset menurut penggunaannya dan diberi indikator.
Ø  Kemudian dibungkus kain/kertas.
Ø  Masukkan alat/bahan yang telah dibungkus ke dalam autoclave.
3.    Sterilisasi dengan penambahan zat-zat kimia
Cara ini tidak begitu efektif bila dibandingkan dengan cara pemanasan kering. Cara ini dipergunakan pada bahan-bahan yang tidak tahan pemanasan atau cara lain tidak bisa dilaksanakan karena keadaan. Contoh zat kimia : Formaldehyda, hibitane, Cidex.
4.     Sterilisasi dengan radiasi ultraviolet
Karena disemua tempat itu terdapat kuman, maka dilakukan sterilisasi udara dan biasanya dilakukan di tempat-tempat khusus.Misalnya: di kamar operasi, kamar isolasi, dsb. dan udaranya harus steril. Hal ini dapat dilakukan dengan sterilisasi udara (air sterilization) yang memakai radiasi ultraviolet.
5.    Sterilisasi dengan filtrasi
Cara ini digunakan untuk udara atau bahan-bahan berbentuk cairan. Filtrasi udara disebut HEPA (Hight Efficiency Paticulate Air). Tujuannya adalah untuk filtrasi cairan secara luas hanya digunakan dalam produksi obat-obatan atau pada sistem irigasi dalam ruang operasi, maupun dalam perawatan medik lainnya yang membutuhkan adanya cairan steril. Jenis filternya yang penting ialah pori-porinya harus lebih kecil dari jenis kuman. Pori-pori filter ukurannya minimal 0,22 mikron.
D.  Tujuan Melakukan Sterilisasi
Tujuan sterilisasi yaitu untuk memusnahkan semua bentuk kehidupan mikroorganisme patogen termasuk spora, yang mungkin telah ada pada peralatan kedokteran dan perawatan yang dipakai.

















BAB III
ALAT DAN BAHAN
A.  Alat
Adapun alat yang digunakan pada praktikum ini yaitu:
Cawan petri                                                                        3 buah
Tabung reaksi                                                                     1 buah
Erlemeyer                                                                           1 buah
B.  Bahan
Koran                                                                                 Secukupnya






















BAB IV
PEMBAHASAN
Adapun pembahasan pada percobaan ini yaitu:
A.  Cawan Petri

B.  Autoclaf
autoklaf adalah alat untuk memsterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (1,02 atm) dan suhu 1210C. Untuk cara kerja penggunaan autoklaf telah disampaikan di depan. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 1210C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 1210C atau 249,8 0F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 1000C, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan memdididh pada suhu 1210C. Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi Description: clip_image012supaya tercapai suhu 1210C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 1210C dan tekanan 15 psi selama 15 menit.
Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai., maka proses sterilisasi dimulai dan timer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi.
Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus, lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik.
Beberapa media atau bahan yang tidak disterilkan dengan autoklaf adalah:
a.       Bahan tidak tahan panas seperti serum, vitamin, antibiotik, dan enzim
b.      Paelarut organik, seperti fenol
c.       Buffer engan kandungan detergen, seperti SDS

















BAB V
PENUTUP
A.  Kesimpulan
Adapun kesimpulan pada percobaan ini yaitu sterilisasi adalah suatu proses penghancuran secara lengkap semua mikroba hidup dan spora-sporanya. Ada 5 metode umum sterilisasi, yaitu : sterilisasi uap (panas lembab), sterilisasi panas kering, sterilisasi dengan penyaringan (filtrasi), sterilisasi gas, sterilisasi dengan Radiasi.Sedangkan tujuan dari sterilisasi yaitu untuk memusnahkan semua bentuk kehidupan mikroorganisme patogen termasuk spora, yang mungkin telah ada pada peralatan kedokteran dan perawatan yang dipakai.
B.  Saran
Adapun saran kami pada percobaan ini yaitu:
1.    Diharapkan agar para praktikan lebih serius dalam melakukan praktikum
2.    Diharapkan agar asisten lebih serius dalam memberikan penjelasan pada praktikan
3.    Diharapkan para praktikan senantiasa menjaga kebersihan laboratorium









DAFTAR PUSTAKA
Denz. Januari 2011. Sterilisasi. http://dprayetno.wordpress.com/sterilisasi/. 2 Mei 2012
E. I. Pradhika. 19 Mei 2010 13:51. Mikrobiologi Dasar BAB 3 Seterilisasi. http://ekmon-saurus.blogspot.com/2008/11/bab-3-sterilisasi.html Mikrobiologi dasar. 2 Mei 2012.
Yalun. January 2009.  Teknik-teknik sterilisasi (bagian 1: cairan dan padatan). http://yalun.wordpress.com/2009/01/09/teknik-teknik-sterilisasi-bagian-1-cairan-dan-padata/. 2 Mei 2012.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar